The Funniest Harlem Shake in house

v

29 Sep 2010

10 Negara Tujuan Wisata Termurah di Dunia

Beberapa dari Anda mungkin merasa bingung ketika dimintai rekomendasi tentang tujuan wisata ke luar negeri yang murah dan terjangkau. Apalagi jika Anda termasuk orang yang jarang bepergian karena padatnya aktivitas sehari-hari. Anda pasti tidak tahu harus menjawab apa.

Kali ini, kami mungkin bisa membantu Anda memberikan petunjuk dalam berwisata. Tak cuma memberikan rekomendasi kepada teman, Anda sendiri pun bisa berkeliling dunia.

Beberapa orang mengurangi budgetnya untuk bertamasya ke luar negeri karena resesi ekonomi. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi, jika Anda pikir bertamasya ke luar negeri adalah sesuatu yang tidak mungkin karena mahal, Anda salah.
Lihat dulu apa yang ditemukan Forbes: 10 Negara Wisata Termurah di Dunia. Meski biaya wisata dan jalan-jalannya relatif murah, Anda tetap harus menyesuaikan budget Anda dengan tarif pulang-pergi ke negara tujuan.


10. Islandia (Iceland)
Ibukota: Reykjavik
Tarif PP: mulai dari Rp17 juta per orang (estimasi dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta)
Dahulu, negara ini terkenal sebagai salah satu negara termahal di Eropa. Kini, ia terpilih sebagai negara termurah yang menawarkan ornamen-ornamen wisata yang mewah.


9. Jamaica
Ibukota: Kingston
Tarif PP: mulai dari Rp73,8 juta per orang
Bersantai di kota resort seperti Ocho Rios, Kingston. Tak ada yang menandingi.



8. Norwegia
Ibukota: Oslo
Tarif PP: mulai dari Rp12,8 juta per orang
Wisata di teluk yang paling indah dan terbaik di dunia.



7. Rusia
Ibukota: Moskow
Tarif PP: mulai dari Rp7,4 juta per orang
Red Square, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Tak hanya indah, konon Anda tak perlu merogoh banyak kocek untuk berwisata keliling Moskow.


6. Inggris
Ibukota: London
Tarif PP: mulai dari Rp8,2 juta per orang.
Sekitar setahun yang lalu, saat resesi ekonomi melanda global, satu poundsterling setara dengan dua dolar AS. Tapi, kini kursnya kembali normal. Satu poundsterling sama dengan 1,5 dolar AS. Hal ini berdampak pada lebih terjangkaunya tarif wisata di Inggris.



5. Brasil
Ibukota: Rio De Janeiro
Tarif PP: mulai dari Rp20,6 juta per orang
Bagi Anda yang suka wisata pantai, Brasil akan menjadi surga dunia. Brasil selalu menjadi tujuan wisata pantai terfavorit untuk wisatawan dunia.



4. Colombia
Ibukota: Bogota
Tarif PP: mulai dari Rp24 juta per orang
Menyaksikan seluruh aktivitas Bogota dari Cerro de Monserrate sangat spektakuler. Anda bisa bercengkerama dengan pasangan sambil menyantap roti dan seseruput kopi hangat.



3. Polandia
Ibukota: Warsaw
Tarif PP: mulai dari Rp14,4 juta per orang
Keindahan Old Town yang ada di pusat Warsaw, yang terpilih sebagai situs warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage), sudah tak perlu diragukan lagi.



2. Swedia
Ibukota: Stockholm
Tarif PP: mulai dari Rp15,3 juta per orang
Apa lokasi yang bagus di Swedia? Lokasi wisata di sana mungkin tidak sesohor Red Square atau Menara Eiffel. Tapi, jika ke Swedia, Anda harus menikmati perayaan Midsummer, yang diselenggarakan di akhir minggu pertama musim panas.



1. Hungaria
Ibukota: Budapest
Tarif PP: mulai dari Rp9,7 juta per orang
Kunjungi kolam renang termal tersohor di dunia. Tak hanya besar, kolam renang ini bisa membuat Anda bugar dan menyembuhkan berbagai penyakit dalam. Anda akan mereguk pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup Anda.

10 Mata uang tertua di Indonesia

1. Uang Syailendra (850 M)
Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :

* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak

Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.



2. Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)

Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.


3. Uang "Ma", (Abad ke-12)
Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai?) dalam bidang lingkaran atau segiempat. Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.



4. Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad k-13)
pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.


5. Uang Dirham, Kerajaan Samudra Pasai (1297 M)
Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.


6. Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad ke-14)

Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.



7. Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad ke-15)
Mata-uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.


8. Uang Jinggara, Kerajaan Gowa (Abad ke-16)
Di daerah Sulawesi, yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, berdiri kerajaan Gowa dan Buton. Kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653-1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa.


9. Uang Picis, Kesultanan Cirebon (1710 M)
Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut picis, dibuat sekitar abad ke-17. Sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin berbunyi CHERIBON.


10. Uang Real Batu, Kesultanan Sumenep (1730 M)
Kerajaan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi ‘sumanap’ sebagai tanda pengesahan. Uang kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut juga real batu karena bentuknya yang tidak beraturan. Dulunya uang perak ini banyak beredar di Mexico yang kemudian beredar juga di Filipina (jajahan Spanyol). Di negeri asalnya uang mi bernilai 8 Reales. Selain uang real Mexico, kerajaan Sumenep juga memanfaatkan uang gulden Belanda dan uang thaler Austria.

You are the visitor number :